Logo TIBS
TARUNA INSANI Boarding School
Berita Taruna Insani

Seminar Parenting Taruna Insani Ajak Orang Tua Memahami Cita-Cita Anak dengan Lebih Utuh

| Oleh: Tim Media Center Taruna Insani
Seminar Parenting Taruna Insani Ajak Orang Tua Memahami Cita-Cita Anak dengan Lebih Utuh

Cita-Citaku, Bukan Cita-Cita Orang Tua

Seminar Parenting Taruna Insani Ajak Orang Tua Memahami Cita-Cita Anak dengan Lebih Utuh

Taruna Insani Boarding School menggelar seminar parenting bertajuk “Cita-Citaku, Bukan Cita-Cita Orang Tua”, sebuah ruang refleksi bagi orang tua untuk melihat kembali bagaimana mereka mendampingi anak dalam menemukan arah kehidupan dan cita-citanya.


Seminar yang disampaikan oleh Muhammad Ali Ridho Assegaf, Direktur Pendidikan Taruna Insani Boarding School, ini mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga: ketika harapan orang tua terhadap masa depan anak perlahan berubah menjadi tuntutan.


Pertanyaan sederhana seperti “Kamu mau jadi apa nanti?” ternyata tidak selalu sesederhana yang terlihat. Di balik pertanyaan tersebut, bisa terdapat harapan orang tua, kekhawatiran tentang masa depan, pengalaman masa lalu, bahkan keinginan yang dahulu belum sempat diwujudkan.


Seminar ini mengajak orang tua untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: ketika kita berbicara tentang masa depan anak, siapa sebenarnya yang sedang berbicara—anak atau diri kita sendiri?


Ketika Cita-Cita Menjadi Tarik-Menarik

Dalam kehidupan keluarga, pembicaraan mengenai cita-cita terkadang berubah menjadi tarik-menarik antara keinginan orang tua dan keinginan anak.


Orang tua mungkin berkata, “Dokter lebih aman,” atau “Masa depannya lebih jelas.” Sementara anak mungkin memiliki keinginan yang berbeda: ingin mendesain, berkarya, membangun sesuatu, atau menempuh jalan yang belum pernah dibayangkan orang tuanya.


Pada kondisi seperti ini, persoalannya bukan semata-mata siapa yang benar dan siapa yang salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah:


Mengapa kita merasa harus memilih siapa yang menang?

Seminar ini menawarkan sebuah pergeseran cara pandang. Cita-cita anak tidak seharusnya menjadi arena perebutan antara keinginan orang tua dan keinginan anak. Anak bukan objek yang harus memenuhi rancangan masa depan orang tuanya.


Anak Adalah Amanah, Bukan Milik

Salah satu gagasan utama yang ditekankan dalam seminar adalah bahwa anak merupakan amanah.


Jika anak dipandang sebagai amanah, maka cara orang tua memperlakukannya pun mengalami perubahan. Amanah bukan sesuatu yang dimiliki untuk selamanya, melainkan sesuatu yang dititipkan untuk dijaga dan ditunaikan sebaik mungkin.


Dalam konteks cita-cita, orang tua bukan berada di posisi untuk mengambil alih seluruh mimpi anak. Tugas orang tua adalah menemani anak mengenali potensi, merawat pertumbuhannya, dan membantunya menemukan jalan terbaik.


Dengan cara pandang ini, orang tua tidak harus kehilangan harapan terhadap masa depan anak. Namun, harapan tersebut perlu ditempatkan dengan tepat agar tidak berubah menjadi tuntutan.


Menjadi Orang Tua yang Menunjukkan Arah, Bukan Mengendalikan Arah

Pada akhirnya, seminar ini tidak mengajak orang tua untuk berhenti memiliki harapan. Orang tua tetap boleh berharap, memberikan nasihat, mengarahkan, dan menetapkan batas.


Yang perlu berubah adalah cara kita menempatkan harapan tersebut.


Anak tidak membutuhkan orang tua yang sepenuhnya pasif. Tetapi anak juga tidak membutuhkan orang tua yang mengambil alih seluruh kehidupannya. Yang dibutuhkan adalah orang tua yang mampu membimbing tanpa menguasai, mendampingi tanpa menentukan, dan mencintai tanpa menjadikan anak sebagai perpanjangan cita-cita dirinya.


Sebab pada akhirnya, cita-cita anak bukanlah sesuatu yang harus dimenangkan oleh orang tua ataupun anak. Ia adalah bagian dari perjalanan seorang manusia untuk menemukan dirinya, memahami potensinya, dan menentukan bagaimana ia akan menjalani kehidupannya.


Maka mungkin pertanyaan terbaik yang dapat kita bawa pulang dari seminar ini bukan lagi,


“Anak saya nanti mau jadi apa?”

Melainkan,


“Manusia seperti apa yang sedang tumbuh dalam diri anak saya, dan bagaimana saya dapat mendampinginya dengan sebaik-baiknya?”

Sebab anak bukanlah tempat bagi orang tua untuk mengulang kehidupan yang telah berlalu. Anak adalah amanah untuk dijaga, bukan cita-cita untuk dimiliki.


Dan tugas kita sebagai orang tua bukan menciptakan anak sesuai dengan gambar yang sudah kita buat, tetapi mengenali, merawat, dan menemani manusia yang sedang tumbuh di hadapan kita.

Bagikan: