Memutus Mata Rantai Luka: Parenting Qur’ani dari Panggilan يَا أَيُهَا النَّاسُ
Dr. Muhammad Ali Ridho
Ada pertanyaan yang saya yakini jarang benar-benar ditanyakan orang tua kepada dirinya sendiri, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena jawabannya terlalu berat untuk dihadapi: Apakah saya sedang mendidik anak, ataukah saya sedang membalas luka masa kecil saya sendiri?
Pertanyaan ini bukan tuduhan. Ia adalah cermin, dan cermin yang jujur memang selalu sedikit menyakitkan.
Tidak sedikit pola asuh yang kita jalankan hari ini adalah warisan yang tidak pernah kita pilih. Ayah yang tidak pernah kita dengar meminta maaf kini hidup kembali dalam nada suara kita saat menegur anak. Ibu yang lebih banyak menuntut daripada mendengar muncul lagi dalam ekspektasi kita yang tidak pernah benar-benar cukup. Rumah yang dulu dingin meski ramai, kini secara diam-diam sedang kita bangun kembali, bata demi bata, tanpa kita sadari.
Luka tidak pergi hanya karena waktu berlalu. Ia hanya menunggu konteks yang tepat untuk muncul kembali. Tidak ada konteks yang lebih mengundang luka lama untuk bangkit daripada momen pengasuhan anak.
Ketika saya membaca Surah An-Nisāʼ ayat 1, selalu ada satu hal yang membuat saya berhenti dan merenung lebih lama dari biasanya. Al-Qur’an tidak membuka pembicaraan tentang keluarga dengan hukum pernikahan, pembagian peran, atau kewajiban sosial. Al-Qur’an memulainya dengan seruan yang sederhana namun menyimpan kedalaman ontologis yang luar biasa:
يَا أَيُهَا النَّاسُ
“Wahai manusia.”
Bukan “wahai para ayah.” Bukan “wahai para ibu.” Bukan “wahai para pemimpin rumah tangga.” Hanya: manusia. An-nās, dalam seluruh kemanusiaannya yang utuh, yang kompleks, yang penuh luka sekaligus penuh potensi.
Ini bukan pilihan stilistika semata. Ini adalah sikap teologis yang sangat disengaja. Sebelum Al-Qur’an berbicara tentang siapa kamu dalam keluarga, ia terlebih dahulu mengingatkan siapa kamu sebagai manusia. Peran bisa disandang tanpa kesadaran, tetapi kemanusiaan adalah tanah tempat semua peran itu seharusnya berakar dan bertumbuh.
Dalam tradisi tafsir, seruan yā ayyuhā al-nās selalu dibaca sebagai panggilan yang bersifat universal dan inklusif, menyapa seluruh manusia tanpa kecuali. Dalam konteks parenting, saya ingin membacanya secara lebih personal: ini adalah undangan Al-Qur’an kepada setiap orang tua untuk kembali kepada dirinya sendiri, sebelum ia berhadapan dengan anak-anaknya.
Parenting Qur’ani, dalam pemahaman saya, tidak bermula dari metode. Ia bermula dari tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, yang pada gilirannya dimulai dari kejujuran yang paling dasar: kesediaan untuk melihat diri sendiri apa adanya.
QS. Al-Qiyāmah: 14 menyatakan dengan sangat tegas:
بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.”
Kita tahu. Di lapisan terdalam kesadaran kita, kita selalu tahu kapan kita sedang bertindak dari kejernihan cinta dan kapan kita sedang bereaksi dari luka yang belum sembuh. Kita tahu bedanya. Yang sulit adalah mengakuinya.
Seorang ayah yang membentak anaknya karena nilai ujian di bawah ekspektasi, sering kali bukan sedang mendidik. Ia sedang melampiaskan kecemasan akan masa depan yang berakarkan ketakutannya sendiri. Seorang ibu yang mengontrol setiap pilihan anaknya hingga detail terkecil, sering kali bukan sedang melindungi. Ia sedang meredakan kegelisahan yang sesungguhnya bersumber dari dalam dirinya.
QS. At-Taḥrīm: 6 memerintahkan:
قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Perhatikan urutannya: diri sendiri terlebih dahulu. Al-Qur’an sangat paham bahwa seseorang yang belum mampu menjaga dirinya tidak akan pernah benar-benar mampu menjaga orang lain. Ia mungkin bisa mendominasi, mengendalikan, bahkan memaksa, tetapi mendominasi dan menjaga adalah dua hal yang berbeda sepenuhnya.
Perintah Al-Qur’an itu jelas, tetapi ada jarak yang perlu kita akui dengan jujur antara mengetahui dan menghayati. Generasi orang tua saat ini mungkin adalah generasi yang paling banyak membaca tentang cara mendidik anak. Attachment theory, growth mindset, positive parenting, semuanya ada di ujung jari. Pengetahuan, bagaimanapun, tidak pernah cukup jika atmosfer rumah tidak ikut berubah.
Orang tua zaman dulu, banyak di antaranya, tidak tahu teori apa pun. Mereka tidak hafal nama-nama psikolog. Rumah mereka justru memiliki sesuatu yang semakin langka sekarang: kehadiran. Keteladanan yang nyata dalam keseharian, bukan hanya dalam kata-kata. Spiritualitas yang mengalir dalam ritual sederhana. Waktu makan bersama yang bukan sekadar makan, tetapi momen di mana anggota keluarga saling melihat satu sama lain dengan sungguh-sungguh.
Kini, banyak rumah yang secara fisik penuh tetapi secara emosional kosong. Orang tua ada di ruang yang sama dengan anak, perhatiannya ada di tempat lain. Rumah kalah bersaing bukan karena orang tuanya tidak cinta, tetapi karena energi dan kehadiran mereka terserap oleh layar, kekhawatiran, dan tekanan yang tidak ada habisnya.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir.
Ada satu kritik lagi yang tidak bisa saya tahan untuk tidak dituliskan: seorang ayah yang memaksakan kehendaknya kepada anak, yang menganggap pilihan karier, jalan hidup, dan minat anak harus tunduk pada visinya, perlu bertanya dengan sangat serius kepada dirinya sendiri. Apakah keinginan ini benar-benar untuk anak, ataukah untuk memenuhi narasi tentang dirinya yang belum pernah selesai?
QS. Al-Anʿām: 164 menyatakan:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
Bahwa seseorang tidak memikul beban dosa orang lain.
Dalam konteks parenting, ayat ini berbicara dengan keras: anak tidak boleh dipaksa menanggung luka, ambisi yang gagal, dan beban batin orang tuanya. Anak adalah amanah Allah, bukan proyek pembuktian diri.
Kritik-kritik itu tentu bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengarahkan kita kepada pertanyaan yang lebih penting: seperti apa seharusnya rumah itu terasa, jika ia hendak menjadi tempat rahmah yang sesungguhnya?
QS. Ar-Rūm: 21 menyebutkan bahwa Allah menjadikan di antara pasangan mawaddah dan rahmah. Dua kata ini sering diterjemahkan berdampingan begitu saja, padahal keduanya memiliki nuansa yang berbeda dan saling melengkapi.
Mawaddah adalah cinta yang tampak ke permukaan, cinta yang bergerak, cinta yang tidak bisa diam di dalam hati saja. Ia harus turun menjadi kata yang diucapkan, apresiasi yang dinyatakan tanpa menunggu momen besar, perhatian yang hadir dalam hal-hal kecil yang justru paling diingat anak sepanjang hidupnya.
Rahmah adalah kasih yang merawat. Kasih yang tidak mensyaratkan prestasi. Kasih yang tetap ada bahkan ketika yang dicintai sedang tidak menyenangkan, sedang melakukan kesalahan, sedang dalam proses belajar menjadi manusia.
Luqman Al-Hakim dalam QS. Luqmān: 13 memulai pendidikan tauhid kepada anaknya bukan dengan ceramah panjang, bukan dengan ancaman. Ia memulainya dengan panggilan yang paling mesra dalam bahasa Arab:
يَا بُنَيَّ
“Wahai anakku.”
Satu sapaan kecil yang menyimpan seluruh kelembutan seorang ayah. Pendidikan yang benar harus melahirkan kedekatan anak kepada Allah, bukan ketakutan kepada agama.
Generasi orang tua terbaik, saya percaya, bukan mereka yang tidak pernah terluka. Hampir tidak ada manusia yang tumbuh tanpa luka. Mereka yang benar-benar luar biasa adalah yang berani menjadi pemutus mata rantai.
Jika dulu ia tidak pernah dipeluk, ia belajar memeluk. Jika dulu ia tidak pernah didengar, ia belajar mendengar. Jika dulu ia selalu direndahkan, ia belajar memuliakan. Jika dulu ia tidak pernah mendengar kata maaf dari orang tuanya, ia belajar mengucapkan maaf kepada anaknya, bahkan ketika gengsi berteriak dari dalam.
Inilah makna terdalam dari seruan:
يَا أَيُهَا النَّاسُ
dalam konteks parenting Qur’ani. Sebelum kamu menjadi orang tua yang baik, kembalilah dulu menjadi manusia yang jujur. Baca dirimu sendiri. Hadapi lukamu. Olah batinmu. Anak-anakmu tidak datang ke dunia ini untuk menanggung sejarahmu. Mereka datang sebagai amanah Allah yang berhak tumbuh dalam rahmah.
Tulisan ini baru berhenti pada panggilan pertama Al-Qur’an dalam Surah An-Nisāʼ ayat 1:
يَا أَيُهَا النَّاسُ
Setelah manusia dipanggil kembali kepada kemanusiaannya, Al-Qur’an segera melanjutkan dengan seruan yang tidak kalah dalam:
اتَّقُوا رَبَّكُم
“Bertakwalah kepada Tuhanmu.”
Pada tulisan berikutnya, kita akan memasuki frasa itu, sebab setelah seseorang berdamai dengan dirinya sendiri sebagai manusia, ia segera diarahkan untuk kembali kepada Rabb yang mendidik dan menumbuhkan seluruh hidupnya.