Teofani Kesederhanaan: Ontologi Keheningan dan Jalan Pulang Menuju Yang Satu
Oleh: Dr. Muhammad Ali Ridho Assegaf
Kita sering keliru. Nalar modern yang terbiasa mengukur bobot kebenaran lewat kerumitan sering gagal menangkap esensi Tuhan sebagai Al-Basiith, Realitas Paling Sederhana. Kesederhanaan Ilahi ini sama sekali bukan penyusutan makna. Ia justru penegasan ontologis bahwa Tuhan adalah alas paling dasar bagi segala wujud yang ada. Ia tidak tersusun dari kepingan-kepingan, tidak pula bergantung pada unsur tambahan. Karena itulah kehadiran-Nya melampaui sekat fisik. Tuhan hadir bukan karena Dia datang dari jauh, melainkan karena Dialah Sangkan Paraning Dumadi, sang penopang eksistensi itu sendiri. Dalam lanskap metafisika ini, kesederhanaan Tuhan justru menjadi muara dari keluasan kehadiran-Nya yang tak bertepi.
Konsekuensinya serius. Jika Tuhan adalah Kesederhanaan Mutlak, maka suluk atau gerak spiritual seorang hamba menuntut keberanian radikal untuk melakukan dekonstruksi diri. Lihatlah bagaimana kita menghabiskan usia untuk menumpuk identitas semu. Kita mengoleksi atribut sosial, psikologis, bahkan moral yang sebenarnya hanyalah aksiden; tempelan sementara yang rapuh dimakan waktu. Padahal, mendekat kepada Tuhan adalah gerak mudik ke pusat diri. Titik terdalam di mana ketenangan bernaung. Ketenangan di sini bukan kekosongan yang pasif. Ia adalah kesadaran aktif untuk berdiri "telanjang" di hadapan Tuhan, melepaskan segala beban aksidental tadi. Kita diajak memandang dunia sekadar sebagai narasi yang lewat, bukan tujuan yang mengikat mati.
Beban spiritual yang sering kita rasakan itu sebenarnya bukan karena Tuhan jauh. Kitalah yang menciptakan labirin itu sendiri. Kita merawat kerumitan, memelihara ilusi bahwa kedekatan dengan Ilahi butuh birokrasi langit yang njelimet dan syarat yang mustahil. Keliru besar. Jika hakikat Tuhan adalah kesederhanaan, maka cinta-Nya pun murni. Tidak bersyarat, tidak bertingkat-tingkat. Perjalanan terasa berat hanya karena kita enggan melepaskan keruwetan batin itu. Kita bersikeras mendekap bentuk-bentuk lama yang isinya sudah lama kosong.
Seruan untuk "kembali" kepada Tuhan, dengan demikian, bukan sekadar jargon agama. Ini desakan eksistensial. Sebuah ultimatum halus untuk memurnikan diri dari segala yang tidak esensial, membongkar konstruksi batin yang pelan-pelan kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Jalan pulang ini butuh mata hati yang tajam untuk memilah: mana hakikat diri, mana sekadar keramaian aksidental. Dalam kacamata ini, "melepaskan" adalah laku pemurnian yang luhur, bukan pelarian pengecut dari kenyataan.
Lewat bashirah atau kejernihan yang lahir dari proses itu, kedekatan dengan Tuhan tak lagi tampak sebagai pendakian terjal menuju langit yang jauh. Perspektifnya bergeser. Ini adalah gerak kembali ke struktur terdalam keberadaan kita sendiri. Saat aksiden rontok, jiwa menemukan ruang napas yang lega. Ketika kerumitan surut, cahaya kesederhanaan muncul sebagai pengetahuan intuitif. Rasanya seperti pulang. Di puncak kesadaran inilah manusia sadar bahwa menemukan Tuhan tak butuh upaya keras mencari barang hilang. Hanya butuh nyali untuk menjadi sederhana. Merapat kembali pada Hakikat yang memanggil sejak awal mula penciptaan. Di situlah ketenangan menampakkan wajah aslinya. Bukan emosi sesaat, tapi kondisi jiwa yang sudah hafal jalan pulangnya.